Dengan semakin banyaknya para orangtua yang terkena HIV/AIDS serta berkembangnya pengobatan anti retroviral (ARV) yang membuat kualitas hidup semakin meningkat menjadikan kualitas reproduksi meningkat sehingga kemungkinan maupun keinginan untuk mendapat keturunan menjadi suatu hal yang dimungkinkan. Yang mulai terjadi saat ini adalah mulai meningkatnya jumlah anak anak dengan HIV/AIDS, dengan penanganan yang baik dan kerjasama orangtua serta semua pihak terkait angka penularan pada anak memang bisa diturunkan. Namun itu perlu usaha yang cukup bersemangat dari semua pihak agar hal ini dapat terwujud.
Kalo ada ibu hamil dengan HIV/AIDS perlu penanganan yang baik dalam menghadapi persalinan, sama aja dengan manusia lain. Jadi jangan diberikan tekanan baik berupa pengusiran, penghinaan, pokoknya segala hal yang bertujuan penganiayaan. Mereka juga butuh persiapan, bahkan karena beban HIV/AIDS itu membuat beban lebih berat jadi jangan ditambahin lagi. Persalinan sebaiknya dilakukan di rumah sakit sehingga penanganan terhadap ibu dan anak bisa paripurna. Lha yang repot kalo ada rumah sakit yang gak mau terima pasien HIV/AIDS, gitu aja kok repot…….ya pindah ke RS lain yang mau terima. Juga jangan dihakimi dulu RS nya , selain mungkin gak mau repot bisa jadi mereka mungkin belum punya fasilitas yang menunjang persalinan atau penanganan HIV/AIDS. Tapi sekarang udah banyak kok RS yang bersedia merawat penderita HIV/AIDS.
Anak yang lahir dari ibu dengan HIV/AIDS perlu dapat pemeriksaan dan penanganan untuk mencegah penularan. Setelah lahir bayi tesebut mendapat perlakuan sama dengan bayi lain, cuman memang perlu pemeriksaan kadar virus (viral load) dalam tubuh. Gak bisa diperiksa dengan pemeriksaan serologis kayak orang dewasa. Karena pada bayi sampai umur 18 bulan antibodi yang dideteksi untuk pemeriksaan serologis kemunginan masih dari ibunya, masalahnya pemeriksaan kadar virus yang lebih akurat ini harganya keren juga alias mahal. Kalo udah urusan ama harga memang pusing karena nyari jalan keluarnya mesti pake duit
Tapi para pakar juga ngerti kok bahwa harga sering jadi masalah terutama di negara berkembang…. bilang aja miskin
….. jadi ada beberapa cara untuk mengatasi hal tersebut walaupun tidak seakurat pemeriksaan kadar virus. Pemeriksaan serologis diperbolehkan dilakukan pada anak umur 6 bulan dan bila negatif dua kali berturut turut dengan interval satu bulan bisa dianggap negatif. Tentang pemberian obat, bayi dengan ibu HIV/AIDS diberikan pencegahan dengan menggunakan nevirapin saru dosis diserta zidovudin selama 6 minggu sampai 8 minggu.
Yang perlu jadi perhatian juga penanganan lebih lanjut dari anak anak ini saat memasuki usia sekolah, masih ada saja sekolah yang menolak punya murid HIV/AIDS, lha kalo gurunya aja masih kayak gitu maka muridnya yang ada di sekolah sejumlah ratusan bahkan ribuan tinggal niru aja. Mau kampanye bahwa HIV/AIDS perlu diberikan perlakuan yang sama tapi kenyataanya……gimana nih bapak/ibu guru, bapak/ibu kepsek ???
Selain itu pemberian imunisasi juga masih belum dilakukan dengan baik pada anak anak dengan HIV/AIDS, padahal sebagaimana anak lain mereka juga berhak mendapat imunisasi kecuali bila ada kontraindikasi. Pernah saya tanya pada satu LSM yang men gurus HIV/AIDS, kebetulan saya tahu ada pasien anak yang diurus mereka, waktu saya tanya gimana imunisasinya……..lha jawabnya kok gak tahu katanya. Pemberian imunisasi ini penting untuk mencegah mereka mendapat infeksi yang serius….karena pada anak HIV/AIDS masalah infeksi yang tidak serius untuk orang sehat bisa jadi serius pada anak HIV/AIDS. Para pengurus LSM yang ngurusi anak HIV/AIDS tolong ya perhatikan imunisasinya anak anak dengan HIV/AIDS, jangan hanya obatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar